Balangan – Mentari pagi baru saja menampakkan sinarnya di atas Kecamatan Batu Mandi, Minggu (09/11/2025). Udara masih terasa sejuk, tapi halaman Polsek Batu Mandi sudah tampak ramai oleh derap langkah personel berseragam cokelat. Mereka berdiri tegap mengikuti apel pagi yang tampak berbeda dari biasanya. Ada semangat yang lebih hangat, ada misi yang lebih dekat dengan hati masyarakat.
Pagi itu, bukan sekadar apel rutin. Ada makna besar di balik barisan disiplin itu — sebuah kegiatan yang diberi nama “Polantas Menyapa Ojek Pangkalan.” Sebuah langkah sederhana, namun sarat arti.
Dalam arahan apel, Kasat Lantas Polres Balangan menekankan pesan humanis kepada seluruh anggota. “Hari ini kita bukan hanya menegakkan aturan. Kita datang untuk mendengarkan, menyapa, dan menjadi sahabat di jalan,” ucapnya dengan nada tegas namun lembut.
Empat personel pilihan ditunjuk untuk membawa semangat itu ke lapangan: Bripka David Arianto, Briptu M. Refaisal R., Bripda Aditya Rizky, dan Bripda Dimas Saputra. Dengan perlengkapan sederhana dan senyum ramah, mereka berangkat menuju pusat kota Paringin, menyusuri jalanan yang sudah mulai ramai oleh lalu lintas pagi.



Tujuan mereka jelas — Pangkalan Ojek 88, yang terletak di samping Monumen Tugu Perjuangan Balangan. Di situlah denyut kehidupan para pengojek berdenyut setiap hari, menjadi saksi perjuangan mereka mencari rezeki di tengah panas dan hujan.
Setibanya di lokasi, para petugas disambut dengan senyum ramah dan tatapan penasaran para ojek pangkalan. Tidak ada jarak, tidak ada ketegangan. Yang ada hanyalah obrolan sederhana yang perlahan berubah menjadi diskusi bermakna.
“Bagaimana kalau kita mulai dari hal kecil saja, Pak? Misalnya pakai helm setiap antar penumpang,” ucap Bripda Dimas sambil tersenyum.
Beberapa ojek mengangguk, ada yang tersenyum malu-malu, namun mereka semua mendengarkan. Dalam kesempatan itu, personel Satlantas Polres Balangan tak hanya menyampaikan pentingnya keselamatan berkendara, tetapi juga mengajak para ojek untuk menjadi pelopor ketertiban lalu lintas di lingkungannya masing-masing.
Suasana pun semakin hangat ketika obrolan bergeser ke pengalaman sehari-hari para ojek. Cerita tentang menembus hujan, membantu penumpang yang tertinggal barang, hingga pengalaman menegur pengguna jalan yang ugal-ugalan, mengalir begitu saja. Dari sanalah tampak bahwa di balik helm dan jaket lusuh mereka, ada semangat kepedulian dan tanggung jawab yang besar.
“Kami senang kalau polisi datang bukan untuk menilang, tapi untuk ngobrol begini. Jadi kami tahu apa yang benar, dan bisa saling jaga di jalan,” ujar salah satu ojek dengan penuh kejujuran.

Mendengar hal itu, para petugas pun merasa terharu. Ternyata, edukasi yang dilakukan dengan pendekatan hati bisa lebih dalam maknanya daripada sekadar aturan di atas kertas.
Kegiatan berlanjut dengan pembagian brosur keselamatan dan sesi tanya jawab ringan. Tak jarang terdengar tawa kecil saat para ojek saling bercanda dengan petugas. Di ujung kegiatan, seluruh peserta berfoto bersama di depan Monumen Tugu Perjuangan, simbol semangat rakyat Balangan yang pantang menyerah — sejalan dengan semangat “Polantas Menyapa” yang terus ingin dekat dengan masyarakat.
Program ini bukan sekadar agenda rutin, tapi menjadi langkah nyata Satlantas Polres Balangan dalam mewujudkan Polantas Banua yang Presisi, Modern, Dekat, dan Bersahabat.
Melalui kegiatan seperti ini, polisi lalu lintas hadir bukan hanya di persimpangan jalan, tetapi juga di hati masyarakat. Karena keselamatan tidak lahir dari peraturan semata — ia tumbuh dari kepedulian, empati, dan rasa saling percaya antara aparat dan warga.
Dan dari apel pagi di Batu Mandi hingga tawa hangat di Pangkalan Ojek 88, hari itu menjadi bukti bahwa Polantas bukan hanya penjaga jalan, tetapi juga sahabat dalam perjalanan hidup masyarakat Balangan.





